Jumat, 15 Juli 2011

Manol, Pustakawan dan Kemunafikan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Transportasi. Itulah dunia kehidupan sebagian dari warga kampung Kajen, kampung domisili saya di Wonogiri. Hampir setiap rumah memiliki anggota keluarga yang bekerjadi bidang transportasi. Utamanya bis.

Ada yang menjadi pemilik, tetapi sebagian besar bekerja sebagai supir, kondektur atau mekanik. Dua adik ipar saya, juga bekerja di kancah yang sama. Sehingga bila berada di terminal bis, baik misalnya di Tangerang, Bogor, Pulogadung sampai Kampung Rambutan, tak jarang kami sesama warga Kajen akan saling bertegur sapa.

Saya tidak tahu apakah ada warga kampung Kajen yang bekerja sebagai manol. Saya juga tidak tahu asal-muasal sebutan ini. Manol fungsinya, kurang-lebih, dapat disamakan dengan traffic announcer dalam dunia penerbangan. Mereka bertugas memberitahu kepada penumpang tentang lalu-lintas pesawat terbang di bandar udara.

Tetapi yang pasti, para manol itu lebih tepat disebut sebagai calo bis. Lahan kerja para manol tersebut, tentu saja, di terminal atau di pos-pos pemberhentian bis di jalanan. Mereka memberitahukan kepada calon penumpang tentang bis-bis jurusan tertentu yang akan segera berangkat.

Bahkan dalam masa ramai penumpang, misalnya menjelang saat-saat musim mudik Lebaran, tak jarang mereka melakukan pemaksaan kepada calon penumpang. Karena setiap kepala penumpang yang bisa ia ajak naik ke sesuatu bis, akan ada imbalannya.

Perpustakaan, secara sembrono, mungkin dapat diibaratkan sebagai terminal bis. Koleksi atau bahan pustaka merupakan jajaran bis-bis yang menunggu untuk ditumpangi para pembacanya atau klien perpustakaan, untuk menuju destinasi tertentu. Para pustakawan adalah para manol tersebut.

Dalam konteks pengelolaan perpustakaan di Indonesia, boleh jadi dapat kita catat adanya satu lagi kesamaan antara pustakawan dan manol tersebut. Kesamaan yang bila meminjam kata-kata favorit presiden SBY, merupakan kesamaan yang memprihatinkan.

Karena kedua profesi itu semata mengandalkan omdo, bersemangat mengampanyekan destinasi tiap-tiap bus atau bahan pustaka yang tersedia, tetapi mereka senantiasa tidak pernah ikut menumpanginya untuk menuju tujuan yang selalu mereka gembar-gemborkan !

Ini kewajaran atau justru kemunafikan ?


Wonogiri, 16/7/2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar