Selasa, 05 Juli 2011

Pustakawan, Keledai, dan Bias Pegawai Negeri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Bau belerang. Diego Bunuel sampai juga di Venezuela. Pria Perancis yang menjadi host acara menarik “Don’t Tell My Mother” di saluran National Geographic Channel telah mengobok-obok beragam hal unik dari negerinya Hugo Chavez tersebut.

Sekadar mengingat, presiden beraliran garis keras sosialis yang akhir-akhir ini dibicarakan karena mengidap kanker, pernah menjuluki George W. Bush sebagai setan. Tak main-main, umpatan itu ia lontarkan di siding Majelis Umum PBB, September 2006. Sehari setelah presiden AS itu berpidato di PBB, Chavez menyatakan, “Setan telah datang kesini, kemarin. Dan bau belerangnya masih menguar sampai saat ini.”

Bahkan Hugo Chavez katakan, Bush berpidato kemarin itu seolah ia yang memiliki dunia dan para psikiater harus menganalisisnya. “Sebagai juru bicara imperialisme, ia datang berbagi obat ajaibnya untuk mempertahankan pola dominasi, eksploitasi dan aksi penjarahannya terhadap warga dunia. Dan film-film Alfred Hitchcock dapat menggunakannya sebagai skenario. Bahkan saya ajukan judulnya “Resep Setan.”

Chavez berpidato sambil mengacung-acungkan buku karya linguis dan aktivis politik AS terkenal Noam Chomsky yang berjudul Hegemony or Survival: America's Quest for Global Dominance, dan ia merekomendasikan peserta Sidang Umum PBB dan rakyat AS untuk membacanya.

“Kerajaan Amerika berusaha sekuat tenaga untuk mengkonsolidasikan sistem dominasi kekuatan hegemoninya dan kita harus mencegahnya. Kita tidak ingin dikator dunia itu mengkonsolidasikan kekuatannya !”

Imbuh Chavez : “Rakyat AS harus membaca buku ini, ketimbang menonton film Superman.” Imbauan itu ampuh. Buku yang terbit tahun 2003 tersebut sontak meroket sehingga masuk dalam daftar 10 buku laris dari daftar Amazon.com dan juga Barnes & Nobel.com. Untuk Anda yang sudah membaca buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania,2010), mohon maaf, cerita pada halaman 145-152 itu saya cuplik lagi untuk dipajang kembali di sini.

Cerita lain kaitan antara buku dan Venezuela, juga disajikan secara menarik dalam liputan Diego Bunuel. Ia dikisahkan terengah-engah mengikuti dua petugas yang menaiki keledai mendaki Pegunungan Andes untuk menuju satu desa terpencil.

Kedua orang petugas itu sedang menjalankan program, entah dijalankan oleh pemerintah atau LSM, yang disebut sebagai Biblio Mulas. Perpustakaan Keledai. Seperti halnya kiprah perpustakaan keliling yang bermobil, mereka memakai keledai untuk membawa buku-buku bagi klien perpustakaan yang bertempat tinggal di desa pada punggung pegunungan Andes itu.

Sungguh mengharukan melihat anak-anak gunung itu yang nampak berbinar-binar wajahnya ketika saling berebutan memilih buku yang baru diturunkan dari punggung kedua keledai itu.

PNS Sentris. Apakah kedua petugas itu merupakan pegawai negeri Venezuela ? Atau relawan ? Saya tidak dapat memastikan. Tetapi ditilik dari pakaiannya, mereka tidak mengenakan pakaian seragam. Tidak pula memakai badge, emblim atau topi yang mengesankan sebagai pegawai negeri.

Kiprah petugas atau relawan dari Venezuela dalam program Perpustakaan Keledai itu dan topik pegawai negeri, tiba-tiba kok mengusik benak saya akhir-akhir ini. Kemudian memicu sinyalemen yang saya tahu, sangat sembrono. dan mungkin jauh dari akurat. Boleh jadi kesan ini juga keliru beratus-ratus persen.

Namun, semoga saya diijinkan untuk berpendapat : rasa-rasanya aura perbincangan tentang perpustakaan dan profesi pustakawan di Indonesia selama ini nampak bias. Bahwa perpustakaan yang selalu dibincangkan adalah perpustakaan, entah sekolah, perguruan tinggi sampai umum, yang ditangani oleh pemerintah. Lalu tentang pustakawannya, fokus permasalahan yang diobrolkan kebanyakan dalam koridor diri mereka sebagai pegawai negeri. Alhasil, kisah perpustakaan keledai negerinya Hugo Chavez itu bila di Indonesia boleh jadi tidak menjadi cerita apa-apa di media kita.

Bias PNS-sentris di negeri kita ini boleh jadi begitu kuat. Sehingga dalam setiap kali ada acara ngerumpi antarpustakawan, rasanya kabut pola pikir sebagai pegawai negeri itu terasa pekat mendominasi. Misalnya, solusi untuk tiap-tiap persoalan yang membelit perpustakaan dan profesi pustakawan, mereka selalu saja menunjuk ke atas sebagai juru selamat. Kepada big brother. Kepada pemerintah.

Bagi saya, itu fenomena rada aneh. Di kolom surat pembaca harian Kompas Jawa Tengah (Jumat, 31 Desember 2004), sebagai seorang epistoholik ("sebagai pustakawan, Anda pernah mempromosikan jasa atau aspirasi Anda untuk kemajuan perpustakaan melalui kolom surat-surat pembaca ?"), saya telah menulis :

“Para cendekia telah mencatat, betapa postmodernisme dipercaya telah melakukan dekonstruksi terhadap dominasi atau hegemoni negara. Kini negara bukan lagi diterima sebagai satu-satunya kekuasaan yang sah. Hegemoni seperti itu sudah lewat, sebab sekarang sentra legitimasi sudah menyebar kemana-mana, dan kehidupan pun berubah menjadi majemuk.

Perkembangan tersebut di Indonesia semakin dipercepat karena rendahnya prestasi negara dan pemerintahan dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat secara baik, di bidang ekonomi, keamanan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Merespons aksi pemerintah yang banyak gagal itu maka masyarakat tidak dapat dibendung untuk tidak mencari solusinya sendiri. Mereka tidak memberontak kepada negara, tetapi bersikap lupakanlah negara, lupakanlah pemerintah, marilah kita bertindak.

Oleh sosiolog hukum Satjipto Rahardjo, gerakan di atas disebut sebagai kekuatan sosial otentik dalam masyarakat yang tidak ingin larut dalam keterpurukan. Kini gerakan itu sedang menggeliat, bergerak dan makin kuat, dan harus kita jaga dan memupuknya sehingga menjadi kekuatan alternatif di luar pemerintahan.

Tetapi di masyarakat kita juga terjadi anomali. Bahkan ironi. Pemerintahan yang gagal itu ternyata tetap mempunyai magnet kuat. Sekedar contoh, terjadi di Solo : lowongan pegawai negeri sipil yang hanya 200-300-an posisi, telah diserbu sampai enam puluhan ribu pelamar. Realitas itu mengentak kita. Ada apa dengan anak-anak muda kita ?

Mengapa mereka antusias ingin menjadi pegawai negeri yang selalu dicitrakan sebagai pekerja yang lamban, birokratis, dan juga korup itu ?

Apakah badai reformasi yang membuat semua sendi kehidupan jadi labil, gonjang-ganjing, justru mendorong mereka untuk mencari tempat berlindung yang ia rasa aman, dengan menjadi pegawai negeri ? Kalau anak-anak muda saja tidak berani ambil resiko, lalu dari siapa kita mampu berharap adanya perubahan ?”

Apakah pertanyaan saya di atas juga relevan ditujukan untuk kalangan pustakawan Indonesia ?

Sumber foto : http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01412/Horse-library_1412802i.jpg

Wonogiri, 6/7/2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar