Rabu, 11 April 2012

Arthur Clarke, Ken Robinson dan Perpustakaan Sebagai Kuburan Passion Para Pustakawan ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Futuris. “Tragedi terbesar dalam seluruh sejarah peradaban manusia boleh jadi adalah pembajakan moralitas oleh agama.”

Itulah salah satu ucapan terkenal dari Sir Arthur Clarke (1917- 2008, foto), ilmuwan Inggris, futuris, dan penulis fiksi ilmiah tersohor. Ketika terjadi tindak kekerasan dengan latar belakang agama, ucapan itu sering saya kutip-kutip kembali.

Hari ini (12/4/2012) yayasannya yang bernama Arthur C. Clarke Foundation akan menyerahkan penghargaan kepada tiga tokoh yang dinilai berjasa dalam pencapaian prestasi (achievement), pembaruan (innovation) dan imajinasi (imagination).

Penerima penghargaan untuk prestasi akan diterimakan kepada Vinton G. Cerf, yang terkenal dengan sebutan “Bapak Internet.” Dia adalah salah satu tokoh penemu bersama arsitektur dan protokol dasar Internet.

Penerima penghargaan untuk kategori pembaruan akan diserahkan kepada Pradman Kaul, Presiden dari Hughes Network Systems, LLC. Pradman Kaul tercatat menonjol dalam kepemimpinannya dalam pengembangan komunikasi satelit, yang ia awali sejak tahun 80-an ketika mendirikan perusahaan di garasi yang menghasilkan jaringan satelit berbasis VSAT.

Sir Ken Robinson on Human Intelligence

Pembantaian kreativitas.Penghargaan untuk imajinasi, kategori yang baru pertama kali dihadirkan pada tahun 2012 ini akan diterimakan kepada Sir Ken Robinson (foto). Tokoh internasional yang menginspirasi dalam merevolusi pendidikan, kreativitas dan inovasi, selama ini bekerja untuk pelbagai negara Eropa, Asia,Amerika, badan internasional, perusahaan besar dan lembaga budaya internasional lainnya.

Jutaan warga Indonesia yang berduyun-duyun berwisata ke Singapura tiap tahun, adalah pula hasil karya Sir Ken Robinson sebagai penasehat pemerintah Singapura.

Sir Ken Robinson terkenal dengan pendapatnya betapa sekolah selama ini hanya berjasa membunuh kreativitas anak. Carolyn Foote, pustakawan sekolah di Austin, Texas (AS) dalam blognya Not So Distant Future menceritakan saat ia mengikuti kuliah umum Sir Ken Robinson yang menitikberatkan sekolah sebagai wahana bagi setiap murid dapat menemukan passion, panggilan hidupnya.

Merujuk hal itu,Carolyn Foote yang meminati kajian tentang web 2.0 itu menyatakan, perpustakaan sekolah merupakan “passion centric.” Pusatnya para murid menemukan panggilan hidup. Karena sekolah tidak mampu membekali pengetahuan cukup untuk setiap anak, waktunya juga terbatas, dan guru pun juga tidak mampu menfasilitasi minat atau bakat tiap-tiap anak didiknya.

“Perpustakaan merupakan tempat paling ideal bagi tiap anak didik dalam menjelajah minat masing-masing,” kata Carolyn Foote. Bahkan menurutnya, perpustakaan merupakan antidote atau penangkal bagi pendidikan model “ban berjalan” selama ini. Karena belajar di perpustakaan bersifat serendipity**, walau ditetapkan pada topik tertentu tetapi dalam penjelajahan informasi setiap orang akan banyak menemukan hal-hal yang tidak terduga.

Dengan menyediakan akses secara luas terhadap beragam bahan pustaka dan juga akses Internet kepada semua fihak, dengan bimbingan pustakawan yang terampil, maka perpustakaan merupakan “passion central” bagi semuanya.

Kuburan passion. Adakah istilah atau jargon perpustakaan sebagai passion central itu akan menarik bagi sejawat pustakawan Indonesia untuk mencamkan, mengeksplorasi dan menyebarkannya ? Jangan-jangan di Indonesia ini perpustakaan justru menjadi kuburan yang nyaman dan terhormat bagi passion kaum pustakawan.

Seorang Mita Kussumawardani dalam blognya telah menulis pernyataan yang jujur berikut ini :

“Saya kesal. Saya sebal. Saya jengkel! Sebal karena pada akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa kebanyakan pustakawan bekerja tanpa passion. Kebanyakan tenggelam dalam rutinitas yang bersifat teknis, dibayar, selesai.

Kalaupun ada diskusi, kenapa ya rasanya berat banget?! Apa karena yang berdiskusi adalah para pakar yang memang berkutat dengan teori, jadi begitu fasih berekspresi? Atau apa karena kebanyakan pustakawan adalah orang-orang “nyasar”?

Nyasar masuk jurusan dan nyasar kerja di perpustakaan, jadi ga peduli untuk lebih mengulik perpustakaan dan kepustakawanan lebih dalam jadi selama pekerjaan teknis beres, ya selesai aja? Jadi, diskusi? Ga ah males toh ga bakal bawa perubahan atau nambahin gaji, mungkin begitu kira-kira jawabannya.”

Apa pendapat Anda ?

Terakhir, di Facebook, saya sejak beberapa bulan yang lalu telah mencatatkan diri sebagai salah satu fans Sir Ken Robinson, dimana status dia pagi ini menjadi inspirasi penulisan kabar ini.

Info lanjut tentang penghargaan yayasan Sir Arthur Clarke 2012, silakan klik : disini.

** Proses serendipity juga terjadi dalam penulisan status ini. Semula saya ingin menulis untuk pembaca umum. Tetapi saat mandi pagi, muncul gagasan untuk mengaitkan ide Sir Ken Robinson itu dengan perpustakaan. Melalui bantuan Google, saya menemukan blognya Carolyn Foote ini.

Wonogiri, 12/4/2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar