Senin, 27 Juni 2011

Filsafat Kepustakawanan

Oleh : Blasius Sudarsono
Pustakawan PDII-LIPI



Pertanyaan. Diskusi tentang kepustakawanan selayaknya diawali dengan sebuah pertanyaan: “Apa sih yang dimaksud dengan kepustakawanan itu?”

Pertanyaan ini membawa pustakawan memasuki ranah filsafat, jika menindaklanjutinya dengan pemikiran mendalam dan mendasar tentang kepustakawanan itu. Dilihat dari kaidah bahasa, kata kepustakawanan berasal dari kata pustakawan yang mendapat afiks (imbuhan) ke – an.

Tetapi kata pustakawan sendiri adalah kata turunan yang berasal dari kata pustaka yang mendapat subfiks (akhiran) wan. Selain itu, kata dasar pustaka dapat menurunkan dua kata lain yaitu kepustakaan dan perpustakaan.

Lima kata bersaudara itu pantas menjadi kata kunci yang harus dipahami dan dihayati oleh seseorang yang menyebut dirinya pustakawan. Dalam diagram itu jelas bahwa titik pusatnya adalah pustakawan meski awal situasi adalah dari pustaka. Jika diagram itu dibalik maka pustakawan tetap menjadi fokus sedang pustaka tetap menjadi awal meski posisinya ada di bawah (benih tumbuhan).

Yang berbeda adalah posisi kepustakawanan. Pada diagram awal, letak kepustakawanan ada pada posisi terbawah. Ibaratnya tumbuh-tumbuhan, posisi terbawah adalah akar. Akar meski tidak tampak, namun justru dari kerja akarlah tumbuh-tumbuhan dapat berkembang dan berbuah. Maka kepustakawanan dalam pohon itu memiliki fungsi yang tidak tergantikan.

Jika diagram dibalik, maka kepustakawanan berada pada puncak diagram. Merupakan puncak pertumbuhan dari pustakawan. Dapat dikatakan kepustakawanan adalah yang menumbuhkan sekaligus menjadi hasil (tujuan) kesempurnaan pustakawan.

Pustakawan memerlukan pendekatan filsafati untuk memahami dan menghayati awal dan tujuan hidup kepustakawanannya.

Sumber foto : http://senseandref.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar